LEARNING TO COMMIT CRIME
1. Differential Association theory
2. Neutralizing theory
3. Social Attachment / social bounding theory
LEARNING TO COMMIT CRIME
A. DAVID MATZA (TECHNIQUES OF NETRALIZATION )
Pada tahun 1960an ia mengembang suatu perspektif yang berbeda secara signifikan pada sosial control dengan menjelaskan mengapa sebagian remaja hanyut kedalam atau keluar dari dilequency. Menurutnya remaja merasakan suatu kewajiban moral untuk memntaati atau terikat dengan hukum. “IKATAN” atau “BOND” antara seseorang dengan hukum )sesuatu yang menciptakan rasa tanggunga jawab dan control) akan tetapa di tempatnya sepanjang waktu. Apabila ia tidak ditempatnya lagi, remaja itu mungkin masuk dalam suatu keadaan drif, atau priode dimana: delinquent sementara hadir dalam keadaan limbo (terlantar atau terombang-ambing) antara convention dan crime, merespon permintaan dari masing-masing, kadang dekat dengan yang satu kadang dengan yang lain, tetapi menunda komitmen, menghindari putusan.Jadi antara tindakan criminal dan konvensional.
Jika seorang remaja terikat oleh aturan sosial bagaimana menjustifikasikan tindakan mereka. Jawabnya bahwa mereka mengembangkan techinis quest of netralisir untuk merasionalisasikan tindakan mereka. Tehnik-tehnik ini merupakan mekanisme pertahanan yang mengendurkan para remaja itu.
Tehnik netralisasi itu adalah:
1. Denial of responbility (menolak bertanggung jawab)
2. Denial of injury (menyangkal tindakan merugikan)
3. Denial of the victim (menyangkal menimbulkan korban)
4. Condemnation of condemner (menyalahkan pihak-pihak yang menyalahkan dia)
5. Appeal to higher loyalties (menarik kepada kesetiaan yng lebih tinggi)
B. TRAVIS HIRCHI( SOCIAL BONDS)
Ia menyebutkan empat sosial bonds yangn mendorong sosialzation dan conformity diri yaitu; attecment ( kasih saying), commitment, involemt, dan bilief. Menurutnya semakin kuat ikatan ikatan ini semakin kecil kemungkinan terjadi dilenquncy, kelemahan-kelemahan di setiap ikatan-ikatan itu berkaitan dengan tingkah laku deliquen.
C. DIFFERENTIAL ASSOCIATION(Shuterland)
Shuterland menemukan istilah Differential association untuk menjelaskan proses pelajar tingkah laku criminal melalui intraksi social itu. Setiap orang menurutnya mungkin saja melakukan kontak (hubungan) dengan definisi baik ke/pada pelanggaran hukum “definitions favorable to violation of law” atau dengan definisi kurang baik ke/pada pelanggaran hukum “definitions unfavorable to violation of law”.
Menjelaskan mengenai proses dimana seseorang belajar untuk melakukan kejahatan dan juga konten apa yang dipelajari dari tindakan tersebut. Ia berpendapat bahwa prilaku kriminal itu dipelajari sama seperti prilaku lainnya. Intinya adalah bahwa orang-orang melakukan kejahatan karena mereka memiliki hubungan yang lebih dengan pola pro criminal daripada dengan pola anti criminal. Istilah differential association untuk menjelaskan proses belajar menurut tingkah laku kriminal melalui intraksi sosial itu. Setiap orang menurutnya, mungkin melakukan kontak (hubungan) dengan definition faroble to violation of law atau dengan definition unfavorable to violation of law. Rasio dari definisi-definisi atau pandangan tentang kejahatan ini-apakah pengaruh-pengaruh kriminal atau non kriminal lebih kuat dalam kehidupan seseorang menentukan ia menganut atau tidak kejahatan sebagai satu jalan hidup yang diterima. Dengan kata lain rasio dari defenisi-defenisi (kriminal terhadap nonkriminal) menentukan apakah seseorang akan terlibat dalam tingkah laku kriminal.
Diferential association didasarkan pada Sembilan proposisi(dalil) yaitu:
1. Criminal Behavior is learned. Tingkah laku criminal itu dipelajari
2. Criminal behavior is learned in intraction with other person in a process of communication.tingkah laku criminal dipelajari dalam iontraksi dengan orang lain dalam proses komunikasi. Seseorang tidak begitu sajamenjadi criminal hanya karena hidup dalam suatu lingkungan yang criminal. Kejahatan dipelajari dengan partisipasi bersama orang lain baik dalam komunikasi verbai maupun non verbal.
3. The principal part of the learning of criminal behavior occurs within intimate personal group. Bagian terpenting dari mempelajari tingkah laku criminal itu terjdi didalm kelompok-kelompok orang yang intim/dekat. Keluarga dan kawan-kawan dekat mempunyai pengaruh paling besar dalam mempelajari tingkah laku menyimpang. Komunikasi-komuniksi mereka jauh lebih banyak daripada media masa, seperti film, telepisi dan surat kabar.
4. When criminal behavior is learned, the learning includes (a) techniques of commiting the crime, which are sometimes very complicated, sometimes very simple and, (b) the specipic direction of motivies, drives, rationalization and attitudes. Ketika tingkah laku criminal dipelajari, pembelajaran itu termasuk (a) tehnik-tehnik melakukan kejahatan, yang kadang sangat sulit, kadang sangat mudah dan (b) arah khusus dan motif-motif, dorongan-dorongan, rasionalisasi-rasionalisasi dan sikap-sikap. Delinquent muda bukn saja belajar bagaimana mencuri di took, membongkar kotak, membuka kunci, dsb tetapi juga belajar bagaimana merasionalisasikan dan membela tindakan-tindakan mereka. Seorang pencuri kan ditemani pencuri lain selama waktu tertentu sebelum dia melakukannya sendiri. Dengan kata lain, para penjahat juga belajar keterampilan dan memperoleh pengalaman.
5. The specific direction of motives and drives is learned from definitions of the legal codes as favorable or unfavorable. Arah khusus dari motip-motip dan dorongan-dorongan itu diprlajari melalui defenisi-defenisi adri aturan aturan hukum apakah ia menguntungkan atau tudak. Di beberapa masayarakat seorang individu dikelilingi oleh orang orang yang tanpa kecuali mendefinisikan aturan-aturan hukum sebagai aturan yang harus dijalankan, sementara ditempat lain ia dikelilingi oleh orang-orang yang definisi-defininya menguntungkan untuk melanggar aturan hukum. Tidak setiap orang dalam masyarakat kita setuju bahwa hukum harus ditaati. Beberapa orang mendefinisikan aturan hukum itu tidak penting.
6. A person becomes delinquent because of an excess of definitions favorable to violation of law over definitions un favorable to violation of law. Seseorang menjadi deliquen karena definisi-definisi yang menguntungkan untuk melanggar hukum lebih dari definisi-definisi yang tidak menguntungkan untuk melanggar hukum. Ini merupakan perinsip kunci (key principle) dari differential association, arah utama dari teory ini. Dengamn kata lain mempelajari tingkah laku criminal bukanlah semata-mata persoalan hubungan dengan teman/kawan yang buruk. Tetapi mempelajari tingkah criminal tergantung pada beberapa banyak definisi yang kita pelajari yang menguntungkan untuk pelanggaran hukum sebagai lawan dari defenisi yang tidak menguntungkan untuk pelanggaran hukum.
7. Differential association may vary in frequency, duration, priority and intencity. Asosiasi diferensial itu mungkin bermacam-macam dalam frekuensi, lamanya,prioritasnya, dan intensitasnya. Tingkat dari asosiasi-asosiasi/defenisi-defenisi seseorang akan mengakibatkan kriminalitas berkaitan dkekerapan kontak, berapa lamanya, dan artti dari asosiasi/defenisi kepada indifidu.
8. The process of learning criminal behafior by association with criminal and anticriminal patterns involves all of the mechanism that are involved in any other learning. Proses mempelajari tingkah laku criminal melalui asosiasi dengan pola-pola criminal dan anti criminal melibatkan semua mekanisme yang ada di setiap pembelajaran lain. Mempelajari pola-pola tingkah laku criminal adalah mirip sekali dengan mempelajari pola-pola tingkah laku konvensional dan tidak sekedar suatu persoalan pengapatan dan peniruan.
9. While criminal behavior is an expression of general needs and values, it is not explained by those general needs and values, since noncriminal behavior in an expression of the same needs and values. Bwalaupun tingkah laku kriminal merupakan ungkapan dari kebutuhan-kebutuhan nilai nilai umum, tingkah laku criminal itu tiodak dijelaskan oleh kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai umum tersebut. Pencuri took mencuri untuk mendapat apa yang mereka inginkan. Motif-motif (frustasi, nafsu untuk mengumpulkan harata serta setatus social, konsep diri yang rendah dan semacamnya) menjelaskan baik tingkah laku criminal maupun non criminal.
Sumber: http://gilangkurnia.blogspot.com/2010/04/teory-kriminologi-tentang.html
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment